May 20, 2024

Ilustrasi: pixabay.com

Oleh Muhammad Natsir Tahar

ChatGPT sudah seperti Tuhan, melayani jutaan dan mungkin sudah miliaran doa (pertanyaan) tiap detik. Tapi tetaplah ia sebatas perangkat belaka; semacam burung kakaktua yang sudah menonton opera sabun selama jutaan tahun.

Manusia tidak diciptakan sebagai ensiklopedia berjalan, manusia didesain sebagai penyintas (survivor). Ketika seorang bani Adam ditemukan tergeletak di tengah pulau kosong bersama robot humanoid Sophia yang super cerdas itu, dalam keadaan keduanya kehilangan daya ingat, maka Sophia segera lumpuh total, ketika seluruh memorinya lenyap.

Tapi manusia yang dibekali kesadaran (consciousness) sebagai inti dari kemanusiaannya, akan bangkit dan mencari akal untuk selamat, meski ia telah kehilangan seluruh memori dalam hidupnya.

Ini yang pernah terjadi pada Krickitt Carpenter yang kisahnya difilmkan dengan judul “The Vow” atau Scott Bolzan, seorang multitalenta yang terhapus seluruh memorinya, akibat kecelakaan kecil. Ia lalu menulis memoar: My Life, Deleted, sesuatu yang tak mungkin bisa dilakukan oleh Sophia, biar pun sebelumnya ia maha cerdas (dapat kita saksikan di YouTube).

Sehebat apapun ChatGPT atau dewa bahasa lainnya yang digerakkan oleh kecerdasan buatan, mereka tetaplah makhluk tempo dulu, yang seluruh kecerdasannya didatangkan dari algoritma big data masa lalu sebelum mereka dihidupkan.

Ketika Artificial Intelligence (AI) bisa memprediksi masa depan, itu karena sistem sosial repetitif yang terjadi akibat kekakuan pola hidup serta algoritma natural manusia dan semesta. Deep Blue bisa mengalahkan pecatur dunia Garry Kasparov karena mesin ini telah mengantongi semua langkah permainan catur yang kemungkinan besar akan dilakukan Kasparov.

AI bekerja berdasarkan algoritma yang telah diprogram sebelumnya, dan tidak bisa keluar dari itu, sedangkan manusia memiliki imajinasi, kreativitas, empati, penalaran moral, fleksibelitas, dan intuisi.

Ketika misalnya, AI berhasil merepro The Night Watch (1642) sebuah lukisan raksasa karya Rembrandt van Rijn yang paling terkenal itu, justru yang mendapat pujian  adalah kreator di belakangnya; Robert Erdmann, seorang ilmuwan senior yang bekerja di Rijksmuseum.

Manusia bisa menerobos masa depan dan tetap bisa survive dalam ketidakpastian apapunbahkan ketika ingatannya terhapus seluruhnya. Menjadi tidak tepat jika hanya mengukur kualitas manusia melalui ingatan-ingatan baku, kurikulum, silabus, dan kalkulator biologis yang ada di otak mereka.

Ketika Henry Ford yang tidak sekolah didatangi para “intelektual” untuk diuji kecerdasannya dengan bertanya, “Berapa kekuatan daya regang dari besi gulung yang Anda gunakan?”, ia segera memanggil Wakil Presiden Ford untuk menjawabnya.

Beberapa pertanyaan lainnya berdatangan, ia tetap memanggil anak buahnya untuk menjawab. “Saya memang tidak tahu apa-apa, dan saya tidak butuh tahu soal-soal yang Anda tanyakan, tapi sekali memencet tombol, saya bisa mendatangkan orang-orang yang bisa melakukannya,” kata Henry Ford.

Faktanya Henry Ford adalah seorang industrialis gergasi asal Amerika, pendiri Ford Motor Company dan sponsor dari pengembangan teknik perakitan produksi massal yang mengubah gaya hidup manusia secara universal, dari menaiki roda pedati yang terseok-seok, menjadi duduk nyaman di belakang kemudi.

Sementara para intelektual itu, dan orang-orang yang telah dengan fasih menjawab pertanyaan mereka hanyalah sekelas ChatGPT atau burung kakaktua, yang telah menonton opera sabun selama jutaan tahun.

Hapalan bukanlah kecerdasan kata Tan Malaka dalam Madilog, 80 tahun yang lalu. Sistem pendidikan yang mengandalkan hapalan hanya menciptakan manusia-manusia mekanik, sebatas kalkulator yang terbata-bata.

Sistem pendidikan kita telah terjerembab kepada bias pedagogi dengan alat ukur “cerdas cermat” untuk sebatas menguji memori manusia, yang sekarang telah dilibas habis oleh AI. Ukuran kecerdasan manusia bukan semata pengolahan data tapi bagaimana mereka bisa melakukan penyingkapan atas fenomena kekinian dan masa depan.

Fenomena ChatGPT yang mengglobal memaksa sistem pendidikan me-reset ulang metode penilaian untuk penekanan kepada proses ketimbang hasil, peningkatan otentifikasi, personalisasi dan enklusivitas pendidikan untuk keluar dari jalur kaku kurikulum dan silabus.

Juga perlu meninjau jauh ke metode klasik dan kembali ke inti filsafat Socrates dengan menggunakan metode Socratic (Socratic Method), pertanyaan tanpa henti dengan membatalkan definisi final melalui Socratic Circle, dan selalu mempoisisikan diri sebagai “tidak tahu” (Socratic Irony) sehingga pencarian kebenaran ilmu tidak pernah terhenti.

Melalui inti kesadaran, manusia bisa berkacak pinggang di hadapan mesin AI. Kesadaran adalah eksistensi manusia, bahwa memori atau kenangan dan seluruh pengetahuan manusia suatu saat kelak bisa ditransfer ke tubuh artifisial, dengan menciptakan manusia abadi (immortal), yang sebenarnya bukan lagi manusia. Manusia abadi itu hanya ilusi dan hidup dengan setumpuk data kenangan seperti ChatGPT, sementara kesadarannya telah tiada.

Kabar baiknya, selagi hidup manusia bisa di-upgrade dengan cara peningkatan kesadarannya. Para ilmuan Barat kemudian merujuk kepada esoterisme Timur melalui metode Zen, meditasi dan Yoga bagi peningkatan kesadaran: The Power of Now oleh Eckhart Tolle, Metahuman oleh Deepak Chopra, Becoming Supernatural oleh Dr. Joe Dispenza, dan The Greatest Secret dari Rhonda Byrne.

Mereka secara akur mengatakan bahwa manusia bisa melampui dirinya menjadi luar biasa hanya dengan meningkatkan kesadarannya, hidup hanya di masa sekarang (present time), dengan menghapus pikiran (traumatik) masa lalu dan prediksi (kecemasan) masa depan.

Bahwa sekuat-kuatnya AI dipola untuk memiliki kesadaran buatan, mereka tidak akan pernah sampai kepada kesadaran subyektif manusia dalam memandang dunia, kecuali sebatas yang sudah terprogram dalam algoritma. Lagi pula burung kakaktua tidak butuh kesadaran dan motif kesadaran. ~

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *