May 20, 2024

Minggu, 26 Februari 2023, pukul 00.57 dini hari nada dering handphone berbunyi. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari Bang Agoes S Alam. Seorang seniman, budayawan, juga Aktivis Buruh Riau yang melasak di Dumai.

“Ekskursi Penyelamatan 7 Pulau Terbiar di Selat Rupat Bengkalis”. Itulah kata-kata yang tertulis di flyer pada giat yang akan dilaksanakan pada tanggal 03-04 Maret 2022 di Bandar Bakau Dumai.

Aku diikutsertakan sebagai Tim Ekskursi bersama 13 orang lainnya. Kubaca ulang itu flyer; tertera nama Prof. Dr. Yusmar Yusuf, M.Psi,  Muhammad Natsir Tahar, Tuan Darwis Moh Saleh, Tyas AG, Sugito Syarif,  Ismail A. Aziz, Andi Mirza, Harnata Simanjuntak, Ghoz, Arol Jalal, Assay Malay, dan Candra Lingga. Aku tak mengenal semuanya, namun sebagian besar nama-nama yang tertulis aku mengenal kealiman dan sepak terjangnya. Akademisi, seniman, budayawan, jurnalis, aktifis buruh, aktivis lingkungan bersatu padu.

Prof. Dr. Yusmar Yusuf, M.Psi, nama itu yang paling menarik perhatianku, beliau bukan orang sembarangan, aku sudah lama membaca tulisan-tulisan beliau, dan lebih menikmati pemikiran-pemikiran beliau di kanal YouTube WayWay-River. Meskipun jujur, -sebab minimnya pengetahuan- banyak hal yang beliau sampaikan aku tak langsung paham.

Harus buka kamus, menafsir, dan mendengar ulang untuk mendapatkan hikmah. Ibarat menyelam ke samudera dalam, pengap dan segala sesak itu terbayar ketika pada akhirnya mampu  menemukan mutiara-mutiara itu. Sufi berjubah Filsuf.

Di sisi lain; memang sepak terjangnya Tuan Agoes S Alam sudah kudengar dan kulihat langsung sejak dua tahun belakangan dalam memperjuangkan hak-hak buruh di Dumai secara keseluruhan. Belum lagi sepak terjang Tuk Darwis Moh. Saleh sebagai Aktivis lingkungan yang konsisten melestarikan, menjaga hutan bakau, penyangga, “tembok Cinanya” Dumai dari Abrasi Air Laut itu. Bandar Bakau, buah dari kelasakannya. Syahdan. ”Siap Perintah, dan Meluncur Bang..” Kubalas pesan WA dinihari itu.

***

Dengan menyebut nama Tuhan yang Maha Agung. Kita mulai Catatan Pembuka ini.

Sabtu, pukul 09:00 WIB, 04 Maret 2023. Tim Ekskursi berangkat dari Bandar Bakau, menyusuri Selat Rupat Bengkalis. Hujan rinai, kapal-kapal tanker pembawa minyak dan kayu akasia milik korporat itu seperti mencibir pompong kayu kami yang melintas di ketiaknya.

“Lautan ini menyimpan banyak sampah, di permukaan bersih, di tengahnya ribuan sampah bersemayam, mengapung,” ujar Tok Darwis. Isi lambungku yang menari sejak tadi seketika naik ke atas. Aku mual, getir. Mabuk laut.!

Lebih kurang satu jam perjalanan, kami singgah di Beting Pulau Mentele. Hamparan pasir; bak permadani abu-abu sejauh mata memandang. Di pinggir permadani itu, ada puluhan, atau mungkin ratusan manik berwarna perak: Ikan-ikan bilis mati tergeletak. Mereka menari bersama ombak ke tepian, namun sebagian tertinggal ketika ombak surut. Penari gelombang lupa tempo, migran-migran kalah.

Bang Agoes S Alam menjelaskan: “Ketika Beting ini surut, maka akan ada ikan-ikan yang tertinggal. Burung Kedidi dan burung Camar itu mencari makan di sini. Siklus alam yang dibentuk oleh Tuhan ini menjadi sebuah keunikan yang harus kita pahami, begitulah Tuhan mengatur alam ini dengan baiknya; ada makanan untuk burung-burung yang tinggal di sini.

Jadi, sepanjang bibir pantai beting ini penuh dengan ikan-ikan bilis kayak gini. Makanya mereka terus bertahan untuk ekosistem yang ada di lingkungan ini. Dengan proses alamiah inilah yang membentuk ikan-ikan ini harus tertinggal mematikan dirinya untuk kehidupan yang lain…!” ujar beliau. Sabda alam pertama kutangkap dan kusimpan.

Kembali ke laptop. Lantas, apa yang hendak dikemas di beting ini? Prof. Dr. Yusmar Yusuf mengatakan, ekosistem maritim yang unik ini bisa menjadi “moment tourism“. Di daratan Sumatera ada bulan mengambang di atas Muara Takus yang muncul setahun sekali. Sementara fenomena ini barangkali muncul setiap bulan. Anak-anak sekolah musti diakrabkan dengan fenomena ini, sebagai sebuah pembelajaran sains maritim.”

***

Petala langit masih menumpahkan rinai. Pukul 11:58 WIB. Kami bertolak ke destinasi berikutnya. Kami meninggalkan Beting Pulau Mentele dengan segudang hikmah, dan keunikan ekosistemnya. Kembali menari di atas gelombang, suara mesin pompong seakan tak lagi terdengar, kepala berisik, ide-ide riuh berlonjatan. Hikmah di Beting Pulau Mentele, bilis, burung kedidi, dan burung camar, menghentak ke-akuan.

Ekskursi Penyelamatan 7 Pulau Terbiar di Selat Rupat Bengkalis: Kemana arah hendak dibawa?  eksplorasi? intervensi? konservasi? ataukah eksploitasi?

Perjalanan belum selesai. Hai Pulau Rampang…! Kami datang.. (Bersambung)

Hanif Muis Mahmud__Bohemian tanah-tanah liar, peng’arak’ akal kemalaikatan berkampung.

Air Molek, Indragiri Hulu, 15 Maret 2023.
03:34 WIB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *