May 20, 2024

Ilustrasi: pixabay.com

“Apa-apa yang dilakukan di dalam kesendirian”. Itulah agama, ujar Whitehead. Dzikir, ialah lorong ‘cara mengingat’. Pun, ingat, menjadi ‘ingatan’ [memori], demi ketundukan. Sebuah rute menuju ‘diri’ yang ingat sekaligus tunduk.

Agama menjadi benar dan baik ketika mendorong penganutnya menuju “ketundukan”. Ketundukan itu tersambung dengan ‘pengetahuan primordial’: ingatan. Dzikir adalah ‘jalan ingat’ dan ingatan. Pengetahuan sejati, ucap Plato adalah ingatan.

Manusia, makhluk ‘pengingat’. Lewat ingatan manusia menyusun tangga-tangga suci [dikemas jadi iman]. Ada iman yang terberikan, ada pula iman yang diperoleh dari kembara spiritual berjenang. Ada iman yang datang kemudian, tersebab keresahan-keresahan batini dan kerisauan hidup dunia yang tak selesai dan tak pernah sudah. Bagi Seyyed Hossein Nasr, dzikir bukanlah sedekar repetisi bunyi, kata dan frasa yang dihafal. Melainkan ‘rute’ doa yang ditempuh dalam olahan jiwa dan raga. Sebuah moda ekspirasi [peniupan] dari lidah, dimigrasi ke pikiran dan bersemayam permanen di hati”.

Secara neuro-sains, syaraf-yaraf yang meng’alami’ vebrasi  denting bunyi, kata dan frasa itu mengendap ke dalam kesadaran, menyelesup ke beting-beting neural-system, hinggap ke ‘ruang bawah tanah’ kesadaran [bersangkar di dalam ‘kubah gambut’ soul, ruh; semacam moda misqat@ mangkuk terbalik]. Andai Anda melafazkan dzikir apa pun bunyi yang diulang-ulang menjelang tidur, hingga Anda terlelap. Keterlelapan seakan menghentikan repitisi dzikir Anda. Oh, tidak. Ketika Anda terbangun tengah malam, maka lidah Anda secara otomatis akan menyambung bunyi lafaz dzikir terakhir sebelum Anda terlelap itu. Sebab, lazaf terakhir [yang terputus itu] dilanjutkan dzikirnya oleh ‘ruh’ atau ‘soul’ batini Anda selama Anda menyelenggarakan kenyenyakan tidur pada sebatang malam.

Ihwal ini dibungkus sebagai fenomena “psikologi déjà vu” [seakan pernah, tapi tidak pernah]. Semua berlangsung tanpa aksara dan simbol fonetis. Dzikir sejati, ala dzikir  ranah Platonis. “Penemuan aksara ialah awal mula skandal peradaban manusia”. Manusia berhenti menjadi makhluk pengingat agung. Seakan ‘agama’ dibuang ke tepi tebing peradaban.

Puasa, Nyepi atau pun tapa brata yang disusun dalam ‘langu’ dan ‘sunyi’-nya segala bunyi adalah klaim tangga suci keimanan menuju ketundukan; tanpa aksara. Bisa ketundukan bumi, sekaligus ketundukan langit. Sehebat apapun lambungan pengetahuan Anda dan lonjakan dimensi spiritual Anda, Anda tidak berumah di langit. Semuanya harus dilakukan semacam uji petik dan uji karrat di atas bumi. Sebab, manusia adalah makhluk bumi. Bukan makhluk langit. Maka, rumus hidup itu adalah: Bergaullah!!!

Ketundukan yang disediakan lewat lelaku Nyepi, tapa brata dan kemudian berlanjut [bersanding] dengan ibadah puasa bagi umat Islam adalah sekerumunan peristiwa mengingat tidak melalui aksara. Pilihan-pilihan moda ingatan, sebagai agen memilih, bisa disanding dengan ‘kehendak’ memilih dalam iman. Walau terkadang menjalani serangkaian kecederaan iman atau malah terkesan menyemberonokan agama. Dan hampir semua agama di dunia pernah menjalani ‘kesemberonoan’ itu. Ada satu bidal tua Prancis yang selari dengan tindakan memilih ini: “trop de choix tue le choix”, semakin banyak pilihan, semakin menghancurkan pilihan itu sendiri.

Puasa, Nyepi atau tapa brata dalam tradisi agama, sebuah jalan mistis demi menghadirkan kekosongan. Dalam kekosonganlah “Realitas” menampilkan diri sebagai ‘jejak-jejak’ Dia. Bukan pantheisme. Meditasi dan Yoga pun demikian. Cara nakal mengintip Tuhan di dalam kekosongan. Di sini Anda dan saya berperan sebagai seorang tukang intip spiritual  bermodalkan ‘energi rusuh’ [ya, sebatas ‘tukang’; bukan sang spiritual itu sendiri]. Hari-hari puasa yang semestinya dilayari dengan segala senyap; palung senyap, kedalaman sumur senyap agar kita mengenal tentang “bising-nya” senyap itu, dalam sedalam-dalamnya. Jeluk sejeluk-jeluknya.

Kini, kita malah dipaksakan menjalani hari-hari yang heboh. Polusi bunyi dari masjid-masjid dengan segala lantunan dan bunyi yang hinggap per 24 jam tiada henti dan tiada jengah. Bunyi-bunyi dan kebisingan yang menghias hari-hari yang mesti senyap dalam sejumlah tangga dzikir bersunyi-sunyi itu adalah gaya rapalan demi memperoleh perhatian orang lain dan mempertontonkan kealiman kolektif dan berkampung-kampung. Belum lagi heboh di media sosial saling minta maaf jelang menunai fardhu puasa. Fenomena ini, sebuah gaya meringkus peran dan fungsi hari raya [idul fitri] yang masih sayup dan jauh [di sini konteks maaf bermaaf itu dilantunkan]. Kita menjadi ‘pengibadah’ yang serba tak sabar dalam menanti dan menaati momen. Sebagaimana anak-anak sudah bermain kembang api dan mercon di awal puasa. Haiyyaaa…

Kekosongan? Saya mulai mencurigai ide kreatif-filosofis dari Blaise Pascal. Filsuf ini menciptakan satu terma “lubang berbentuk Tuhan”. Sebuah istilah untuk mencandra ihwal lubang kekosongan yang menganga di dalam diri. Ya, semacam kue donat. Cebur dan cemplungkan diri mu ke dalam lubang kekosongan [Tuhan] itu yang ada di dalam diri mu sendiri. Itulah puasa. Agar kita tak mengoperasikan ibadah ini dalam kesemberonoan kolektif. Pun, jua bisa menjauhi rapalan doa yang didaras secara keras, demi mencuri perhatian orang sekitar. Berdzikir dan berdoa dalam rapalan antara berbunyi dengan tidak. Model ini  dijadikan alat untuk meresapi maknanya. Sebab, meditasi tanpa suara bisa pula dikategorikan sebagai seorang penipu spiritual yang menunggu untuk diiklankan [dibalihokan]. Ha ha ha …..

Ya, semuanya sebelum matahari terbenam [le coucher du soleil]…

 

Prof. Dr. Yusmar Yusuf, M. Phil__Kosmolog dan Budayawan Riau dengan pemikiran progresif-alternatif. Guru besar Sosiologi dalam ‘Malay Studies and Sociology of Knowledge’ Fisip Universitas Riau. Pengampu utama mata kuliah ‘Filsafat Ilmu Pengetahuan’, pengelana dalam lorong ‘Urban Tasawuf’ yang berkolaborasi dengan para pengelana tasawuf Afrika Utara dan Eropa. Kolektor mobil offroad, musafir nan fakir dalam kehausan spiritual tak berujung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *