May 20, 2024

Oleh Harnata Simanjuntak

Adam: Adakah lagi yang kau tawarkan?

Eve: Selain kelamin? Tidak. Dulu sekali kutawarkan hati. Digagahi juga. Hatiku hamil tapi tak beranak. Busuk dan mati. Jadi kau berutang hati padaku. Tapi, hendak kau bayar bagaimana? Telah lebih dulu kau gadaikan hatimu dan tak tertebus. Mau kutawarkan apa lagi? Semua tubuhku adalah lubang kelamin bagimu. Untuk disyahwati. Sudah kubungkus tubuhku, bahkan dengan kelambu. Berjalan pun aku meraba. Tetap kau syahwat.

Adam: Ah. Tak tahukah kau kodrat? Aku pun kalau terlahir sebagai kau akan bernasib sama. Semudah itu.

Eve: Semudah itu? Kenapa perkara syahwatmu menyusahkanku. Membuat ku runsing. Kenapa tidak kau urus dirimu sendiri. Kau buat lubang kelaminmu sendiri.

Adam: Sudah kucoba. Cukuplah untuk menambah ragam. Namun tetap lebih berperi denganmu. Lebih menggeletar. Ah, jangan kau katakan kau pun tak menikmatinya. Setahuku kau tak munafik.

Eve: Tak pernah aku hingga menikmati. Selalu hingga hampir mati . Dan kau berhenti di situ. Ketika aku nazak. Telah lama, karenamu juga, kelaminku kebas. Berhenti menghantarkan getar. Ada ketika dulu, kau coba perlahankan, hampir saja aku bangkit. Tapi kau tetaplah kau. Tak pernah cukup sabar untukku. Kau hempaskan lagi, dan lagi. Dan aku hampir mati lagi.

Adam: Ah, seburuk itukah aku?

Eve: Cermatilah rautku. Kali ini agak lama. Bukankah guratannya adalah catatanmu sendiri. Sudah lama aku tak menyentuhnya. Tak merasa ia milikku lagi. Kau, yang sebenarnya tak lebih berhak dariku, telah membuat akta sendiri bahwa tubuhku adalah punyamu.

Adam: Begini sajalah. Bagaimana kalau aku, maksudku kita, ehm, perbaiki keadaan. Kita buat kesepakatan yang menatalaksana perkelaminan. Sudah kucoba rangkaikan.

Eve: Sudah selesai kau rangkai maka hendak kau hunjuk padaku? Tak apalah. Aku pun sudah mengintipnya sekali. Terlihat olehku jalinan kata-kata yang menjijikkan. Hikmahnya ada juga. Aku jadi lebih mengerti perihal kesyahwatanmu.

Aku jadi mengerti mengapa dulu terucap olehmu, bahwa tengkukku menerbitkan liur, lipat lenganku serupa labia, bau tubuhkupun membuatmu menetes. Ketahuilah, jika begitulah bingkai perkelaminan bagimu, sungguh aku berencana untuk
berpindah jagad.

Adam: Hai, tunggu dulu. Ada apa ini? Dimana letak salahnya? Bukankah kau akan lebih terlindungi? Kau harus mengerti, betapa aku tak berdaya menolak birahi. Betapa lemahnya aku sejak dulu sekali. Nun ketika perdana memindai tubuh telanjangmu.

Eve: Beginilah terus. Selalu tentangmu. Sudah kukatakan bukan, bahwa aku menjadi lebih mengerti  jalan pikirmu. Bagimu aku hanyalah aparatus. Alat bantu perkelaminan. Tak bisakah kau pandang aku utuh, sebagai setaramu? Tak bosankah dengan digdayamu? Ajarlah tekak kelaminmu itu adab. Sehingga ia bertemu tamadun. Tak malukah dirimu ke, ehm, hewan..?

Adam: Perbaiki bicaramu! Jika tadi kau lebih dekat sedikit pastilah sudah ku…

Eve: Tindih..? Begitukah? Yah, tentulah kau tampar lebih dahulu. Kau jambak. Tapi selalu akan berakhir sama, inilah sehingga tadi kuterbitkan lema hewan. Ujungnya kau akan gulingkan, gumuli aku.

Adam: Heh? Tidakkah kau melihat aku berusaha menghargaimu? Akur sajalah dengan kesepakatan ini. Eve: Sudah sekian ribu tahun. Pernahkah aku berhasil berkata tidak. Pernahkah kata tidakku didengar? Diambil kira?

Dumai, 21 Juni 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *