May 20, 2024

Sejumlah media AS mewawancarai salah satu nasabah Silicon Valey Bank, pekan lalu. (F: AFV)

OIKETAI – Dampak penutupan Sillicon Valley Bank (SVB) terhadap Indonesia dinilai kecil, atau bahkan tidak ada sama sekali. Namun, hal itu dapat menjadi pelajaran agar kejadian serupa tak terjadi di Tanah Air.

“Dampak ke ekonomi Indonesia secara langsung itu kecil, karena relasi SVB dengan startup (perusahaan rintisan) di Indonesia, perbankan di Indonesia itu sepanjang yang saya tahu tidak ada, jadi implikasinya kecil,” ungkap Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto dalam diskusi publik, belum lama ini.

Menurut dia, apa yang terjadi pada SVB dinilai berpeluang kecil untuk terjadi pada perbankan nasional. Sebab, sejauh ini fundamental lembaga jasa keuangan di Tanah Air masih cukup solid.

Perbankan di Indonesia juga dinilai masih menerapkan sistem yang konvensional dan tidak terlalu terlibat dengan internasional. Hal ini menjadi poin plus ketika bank di negara maju, seperti SVB mengalami keruntuhan. “Itu memutus efek berantai. Sehingga kita masih confidence perbankan kita masih kuat,” kata Eko.

Kendati demikian, bukan berarti perbankan dalam negeri tutup mata mengenai situasi yang menimpa SVB. Bank-bank di Indonesia mesti meninjau kembali tingkat kehati-hatiannya. Itu perlu dilakukan agar ada pemetaan mengenai bank yang berisiko. Itu karena secara tidak langsung, jatuhnya SVB memberi dampak ke Indonesia.

Memerahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), misalnya, disebut menjadi salah satunya. Hal tersebut terjadi karena ada ketidakpercayaan atau sentimen negatif pada perbankan.

Peneliti Center of Industry, Trade and Investment Indef Ahmad Heri Firdaus mengungkapkan, dari hasil analisis model ekonomi Global Trade Analysis Project (GTAP) diketahui bahwa dampak langsung jatuhnya SVB pada ekonomi Indonesia justru positif terhadap PDB nasional, yakni 0,003%.

“Justru dampak tidak langsung dari SVB ini berdampak negatif terhadap PDB kita sebesar 0,020%. Dampak tidak langsung ini disebabkan oleh kepanikan atau kekhawatiran berlebihan di pasar,” jelas dia.

Sedangkan dari sisi ekspor, kejatuhan SVB memberikan dampak negatif secara langsung bagi Indonesia, yaitu 0,317%. Angkanya menjadi lebih besar bila dilihat dari dampak tidak langsung, yakni 0,354%.

Sementara dari sisi impor, runtuhnya SVB justru memberikan dampak langsung dan tidak langsung positif bagi Indonesia, yakni 0,107% dan 0,113%. “Jadi sebenarnya kalau kita tidak panik berlebihan, tetap waspada, itu dampaknya bisa dikendalikan dan mungkin ada peluang di situ. Ini menjadi catatan penting,” tutup Heri. DO/mi