May 20, 2024

Oleh Prof. Dr. Yusmar Yusuf, M.Phil

Ekstrimkanlah dirimu di jalan wara’. Jenis ekstrim inilah yang paling seksi dari segala model ekstrim atas bumi. Syaidina Ali: “Aku lebih memahami jalan-jalan di langit daripada rute jalan di bumi”.

Sebuah model stylistica [kata pendek nan molek, indah dan berkaidah] untuk memulai sebuah kitab [tulisan] dari Imam Jaafar as Shadiq; Ista’da wara [ekstrim dalam kewarakan]: “Aku berlindung kepada Mu dari menyesatkan dan disesatkan orang. Aku berlindung dari tergelincir diri atau digelincirkan orang. Aku berlindung dari berbuat zalim atau dizalimi orang. Berbuat bodoh atau dibodohi orang”  [secara bercanda: dikadali atau ditipu orang].

Imam al Ghazaly menyambut stylistica ini bak doa ketika menempuh dan memasuki ruang-ruang baru, tanah liar dan kota-kota yang belum familiar. Khawatir akan perjalanan malam hari dan tersesat di sebuah kota. Pun kelam perjalanan di tengah samudera maha luas, padang pasir dan rimba raya.

Muhammad Suci, kala menurunkan ajaran, tak saja berujar. Tapi, jua menggoreskan grafis di atas muka tanah. Al Mursalin menjelaskan begitu banyak para perampok di jalan Tuhan pada sebatang garis lurus yang ditarik lewat sebatang tongkat. Lalu, garis lurus itu dipotong-potong oleh garis yang bercabang-cabang dan bersilang ke kiri dan ke kanan. Ada garis palang horizontal, garis silang diagonal, bahkan ada garis sirkuler [melingkar separoh parabola]. Pada garis-garis potongan itulah para perampok di jalan Tuhan sedang mengintai dan mengintip. Anda akan diculik di tengah perjalanan.

Ada perampok di jalan Tuhan [highway pirate].  Ada dua ruas rute. Tuhan berkata: “Aku tunjuki kepada manusia ‘jalan’ [sabil]: Syukur dan kufur”. Garis-garis berpotongan dengan siku-sikunya adalah jalan kufur. Di situ iblis mengintip dan menculik Anda. Jalan ini [garis lurus dan potongan] bisa difahami sebagai ajaran pemikiran dan aliran.  Manusia tinggal memilih dalam nada tahu dan mengetahui atau pun, dalam nada masa bodoh. Muhammad sang “penunjuk jalan”; mendahulukan akhlak berbanding hukum. Akhlak lebih perkasa dari pada hukum [fiqh] yang disambungkan kepada mereka-mereka yang telah mengalami ‘kematangan spiritual” [mature].

Dalam Heros and Heros Warship, Thomas Carlyle [satiris Skotlandia] mengagumi Muhammad al Mursalin: “Kedatangan Muhammad seperti jatuhnya seonggok amunisi yang terjun di padang sahara. Lalu, butir-butiran pasir sahara memercik, meledak, merah merona angkasa dari Delhi  ke Granada”. Merah merona itu adalah jalan akhlak yang indah. Tuhan bukan entitas penikmat jalan kekerasan.

Manusia berada di antara jalan lurus dan patahan-patahan garis; antara alpa dan dzikir, antara ngerumpi dan samadi [uzlah]. Jalan sunyi dan gempar bazaar. Jalan lembut dan rute keras. Suka menerima daripada memberi. Suka menunjuk jalan kebenaran, namun tak menuju kebenaran. Gairah mencari kegembiraan, namun yang datang malah kegelisahan yang sambung-menyambung. Sibuk mengejar kebahagiaan, malah kerap terserobok  sejumlah kemalangan dan kemurungan.

Kita menjadikan seonggok tubuh yang penduka, pengeluh dan bermurung hati di sudut taman yang molek, serbuk bunga mewangi. Tak mampukah kita melantunkan nyanyian jiwa. Nyanyikanlah hati mu di sudut taman juwita. Tuhan pun menduga; “Telah Ku hadiah taman nan molek jelita, kau masih jua bermurung dan mengeluh dari waktu ke waktu. Apa yang salah dengan manajemen Ku ke atas taman itu”? Rayakanlah kehidupan!!!

Dia Sang Penangguh dan Pemberi Tempo. Dia yang memberikan tempo kepada iblis dahulu selaku mahkuk terkutuk, di awal penciptaan kosmis, juga  adalah Dia yang menunda siksa kepada manusia. Dia menangguhkan dan membiar dengan sabar,  menunggu kita untuk kembali kepada Nya. Kenapa kita harus bermurung durja dan mengumpati kehidupan?

Dosa-dosa kalian begitu besar, tapi lebih besar lagi ampunan Tuhan yang terhidang. Kalian tak layak menggapai kasih sayang Tuhan. Tapi kasih sayang Tuhan amat sangat layak untuk mencapai kalian. Kasih sayang Tuhan meliputi langit dan bumi.

Jelang hari nan fitri, simbol kemenangan dalam memilih jalan; Jika Engkau menyayangi orang-orang yang berpuasa dan memajeliskan malam-malam dengan iktikaf dan dzikir penuh ikhlas, siapa lagi yang menyayangi pendosa yang absen beribadah dan tenggelam dalam samudera maksiat? Jika Engkau menerima orang yang banyak ibadah, lalu siapa yang melindungi orang-orang sedikit ibadah?  Sekumpulan pengemis telah berhenti di pintu Mu. Dan gerombolan fakir telah berlindung di depan Mu. Perahu orang miskin dan para yatim merindukan tepian Mu. Berharap menjatuhkan sauh. Berlabuh di teduh teluk kasih Mu.

Selamat Idul Fitri. Maaf lahir dan Batin dari para oiketai muka bumi yang tak pernah murung…