May 20, 2024

BERFOTO BERSAMA: Ritual penyambutan Prof. Dr. Ali Yusri selaku Guru Besar FISIP yang baru pada bidang Ilmu Politik Pemerintahan yang berlangsung Jumat, (07/07/2023) di kampus FISIP UNRI, menjadi tonggak sejarah (milestone) bagai perguruan tinggi terakbar di Riau ini untuk memberikan pemaknaan lebih jauh dan sakral atas kehadiran seorang guru besar. (F: fisipunri)

PEKANBARU News – Berbeda dari biasanya, helat penyambutan Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau (UNRI) digelar dalam sebentuk tradisi berwajah taman yang dielaborasi dengan sejumlah cultural perfomance berkaidah dan berpaksi budaya Melayu.

Ritual penyambutan Prof. Dr. Ali Yusri selaku Guru Besar FISIP yang baru pada bidang Ilmu Politik Pemerintahan yang berlangsung Jumat, (07/07/2023) di kampus FISIP UNRI, menjadi tonggak sejarah (milestone) bagi perguruan tinggi terakbar di Riau ini untuk memberikan pemaknaan lebih jauh dan sakral atas kehadiran seorang guru besar.

Dekan FISIP UNRI, Dr. Meyzi Heriyanto, S. Sos., M.Si  menggarisbawahi agar setiap jenis acara apapun baik bertempat di FISIP maupun di luar seperti hotel sebagai venue kegiatan, tetap diberi ruang bagi ekspresi seni bagi seniman-seniman Riau untuk tampil dan mementaskan karya berbasis kultur lokal Melayu dan budaya progresif.

Meyzi merinci saat ini terdapat enam guru besar di FISIP yang terdiri dari tiga guru besar di Sosiologi, satu guru besar di Ilmu Pemerintahan, satu guru besar Administrasi Publik dan satu lagi guru besar Administrasi Bisnis.

“Target kita minimal 30% guru besar dari total dosen. Upaya yang dilakukan antara lain pemetaan dosen, mengaktifkan kelompok jabatan fungsional dosen, hibah penelitian dan pengabdian, bantuan publikasi dosen serta penyediaan ruang kerja bagi dosen,” jelasnya.

Dekan FISIP UNRI, Dr. Meyzy Heriyanto, S. Sos., M.Si.

Sementara itu Ketua Senat FISIP UNRI, Prof. Dr. Yusmar Yusuf, M. Phil menjelaskan tentang pentingnya tradisi penyambutan guru besar sebagai kultur yang melekat di masa mendatang dengan melibatkan seluruh civitas akademika FISIP lewat sambutan berwajah taman [garden].

“Tradisi universitas dunia, harus mampu meletakkan posisi simbolik sains pada karier dan jenjang karier akademik tertinggi. Profesor menjadi ranah yang berpembawaan imperatif dan DNA-nya sebuah Universitas,” ujarnya.

Menurut Yusmar, profesor dalam bahasa-bahasa dunia bisa bermakna “guru secara umum”. Misalnya dalam tradisi Prancis, semua guru disapa sebagai “de la professeur”.  “Tapi ada hakikat lain dari dimensi profesor itu sendiri adalah inayah ‘orang-orang arif dan bijak’. Mereka mustika kebijaksanaan yang bersetia dengan ‘jalan sofi’. Sehingga dalam idiom Prancis dikenal ungkapan ‘Je suis la professeur de l’academie de la vie’ [Aku adalah profesor dalam akademi kehidupan],” jelasnya lebih lanjut.

Para profesor yang meniti dan menetak sepanjang lorong “akademi kehidupan” itu, sambung Yusmar,  boleh dialamatkan kepada Socrates, Plato dan Aristoteles dan para bijak bestari, termasuk para sufi. Mereka tak terjebak dalam riuh rendah tikungan serba Scopus yang seakan-akan hari ini menjadi “Ayatullah” kebenaran sains lewat penerbitan yang seakan diperlombakan secara masif. Padahal sejatinya membajak “kebijaksanaan” sofi itu sendiri.

Setiap inisiasi penyambutan ala party garden ini, menurutnya, akan tetap dihiasi dengan sejumlah cultural perfomance berkaidah dan berpaksi budaya Melayu sampai seni luhung dan progresif, termasuk Jazz.

Performa “Sosah” Produksi Lembaga Teater Selembayung 2023.

“Dengan seni, kita menyapa dan mengusik akal budi akademik yang cenderung pongah dan merasa benar sepihak. Lewat seni, kita menyandingkan akal kemalaikatan [angelic reason] sekaligus cahaya kemalaikatan [angelic light]. Maka kita undang kali pertama, teater pimpinan Fedli dengan tajuk persembahan ‘Sosah’. Diambil dari kaidah tradisi Kampar,” papar Yusmar.

Dijelaskan, kaidah-kaidah luhung dan pesan moral dari “Sosah” itu, adalah cara seniman teater menghadirkan kekuatan orality [kelisanan] yang berpaksi [akar tunggang] dalam kehidupan kampung-kampung Melayu di hulu-hulu sungai besar di Riau. Termasuk hulu dan sepanjang sungai Kampar. Hulu-hulu sungai besar di Riau itu adalah “kingdom of orality” yang teramat kemilau dan menawan, termasuk fenomena keperkasaan “kawah candradimuka” era Buddhisme Muara Takus.

Senada dengan Meyzi, Yusmar berkomitmen, penampilan-penampilan seni, akan selalu menghiasi kegiatan-kegiatan rutin FISIP ke depan. Tujuannya memberi dan membahasai kampus dangan peristiwa serba cultured and civilised.

Penutup acara penyambutan yang gegap gempita ini juga ditandai penandatangan kerjasama antara FISIP UNRI dengan Rumah Sakit Kabupaten Siak oleh dekan Fisip Dr. Meyzi Heriyanto dan Kepala Rumah Sakit Kabupaten Siak, dalam bidang MBKM [Merdeka Belajar Kampus Merdeka]. DO/r