May 20, 2024

ALANG-alang kapalang tangguong/Alang tukang maabiin kayu/Alang codiok maancuun nagoghi

Kata-kata itu muntah dari lima aktor di laman FISIP UNRI. Di antara jejeran civitas kampus yang mengikuti helat pengukuhan Guru Besar FISIP UNRI, Jumat (7/7/2023) petang.

Sebuah sajak berjudul, “Ibu” dibaca Rina NE di panggung bagian belakang menggema syahdu.

Di sela itu, aktor-aktor lainnya bergumam, tak serempak, menyebut, “Sosah, sosah, sosah hati, sosah tangan, basuh badan” dan seterusnya…

Ica, berperan sebagai Omak alias Ibu dengan perkakas dua ember hitam besar tampak seperti perempuan yang mencuci di tepian sungai, layaknya orang-orang di perkampungan.

Adegan mengalir dengan menggambarkan dua anak lelaki, Sendy Alpagari dan Deni Palu yang meminta pada ibunya untuk berhenti saja. Hidup tenanglah di rumah dan tinggalkan aktivitas mencuci itu.

Sang Ibu, menasehati mereka dan akhirnya, kedua lelaki itu tak berdaya. “Biarlah Omak di siko, mancuci dosa-dosa kalian. Jan engkek dan tinggi hati. Olun le, olun…” (Telunjuk Ibu, mengarah ke langit). Pertunjukan itu ditutup dengan sajak panjang yang dibaca Fika dan Rina.

Sutradara karya berjudul, “Sosah” itu, Fedli Azis menjelaskan, karya itu memang disesuaikan dengan acara pengukuhan guru besar FISIP UNRI. Fedli mengutip petuah lama warisan leluhur. Petuah itu mengisyaratkan, jadilah baik, bijak tanpa menginjak orang lain. Karena kecerdasan dan kepintaran, hari ini dijadikan kendaraan melindas orang lain.

“Yah, mudahan pihak yang berhelat hari ini berkenan dengan pertunjukan yang kami suguhkan,” ujar Fedli.

Pertunjukan teater mini itu menjadi tradisi baru di UNRI yang ditandai menyambut guru besar baru di FISIP, Prof. Ali Yusri yakni guru besar Ilmu Pemerintahan.

Performa “Sosah” Produksi Lembaga Teater Selembayung 2023.

Ketua Senat FISIP UNRI, Prof Yusmar Yusuf dan Dekan FISIP UNRI, Dr. Meyzi Heriyanto yang menggagas tradisi baru penyambutan guru besar itu.

Selain dosen-dosen aktif, 10 orang dosen purna tugas juga ada di sana, merajut kembali silaturrahim yang sempat terputus berbilang tahun.

“Kami ingin memberi dan membasahi kampus dengan peristiwa serba cultured dan civilised. Penampilan-penampilan seni semacam ini, akan selalu menghiasi kegiatan-kegiatan rutin FISIP ke depan,” ulas Yusmar.

Guru besar sosiologi ini pun berujar panjang; tradisi universitas dunia, harus mampu meletakkan posisi simbolik sains pada karier dan jenjang karier akademik tertinggi.

Profesor menjadi ranah yang berpembawaan imperatif dan DNA nya sebuah Universitas. Profesor dalam bahasa-bahasa dunia bisa bermakna “guru secara umum”. Misal dalam tradisi Prancis, semua guru disapa sebagai “de la professeur”.

Tapi ada hakekat lain dari dimensi Profesor itu sendiri: inayah “orang-orang arif dan bijak”. Dia mustika kebijaksanaan. Mereka yang bersetia dengan “jalan sufi”. Sehingga dalam idiom Prancis dikenal ungkapan seperti ini: “Je suis la professeur de l’academie de la vie” [Aku adalah profesor dalam akademik kehidupan].

Para Profesor yang meniti dan menetak sepanjang lorong “akademi kehidupan” itu boleh dialamatkan kepada Socrates, Plato, Aristoteles dan para bijak bestari, termasuk para sufi. Mereka tak terjebak dalam riuh rendah tikungan serba Scopus yang seakan-akan hari ini menjadi “Ayatullah” kebenaran sains lewat penerbitan yang seakan diperlombakan secara massif.

Padahal sejatinya membajak “kebijaksanaan” sufi itu sendiri.

Setiap inisiasi penyambutan ala party garden ini, akan tetap dihiasi dengan sejumlah cultural perfomance berkaidah dan berpaksi budaya Melayu sampai seni luhung dan progresif, termasuk Jazz.

Sebab dengan seni, kita menyapa dan mengusik akal budi akademik yang cenderung pongah dan merasa benar sepihak.

Lewat seni, kita menyandingkan “akal kemalaikatan” [angelic reason] sekaligus “cahaya kemalaikatan” [angelic light].

Maka kita undang kali pertama, teater pimpinan Fedli Azis dengan tajuk persembahan Sosah. Diambil dari kaidah tradisi Kampar.

Kaidah-kaidah luhung dan pesan moral dari “Sosah” itu, adalah cara seniman teater menghadirkan “kekuatan” orality [kelisanan] yang berpaksi [akar tunggang] dalam kehidupan kampung-kampung Melayu di hulu-hulu Sungai besar di Riau. Termasuk Hulu dan sepanjang sungai Kampar.

Hulu-hulu sungai besar di Riau itu adalah “Kingdom of Orality” yang teramat kemilau dan menawan. Termasuk fenomena keperkasaan “kawah candradimuka” era Buddhism Muara Takus.

Lantaran helat tadi penyambutan guru besar yang baru, Meyzi kemudian merinci bahwa sampai sekarang, sudah ada enam guru besar di FISIP UNRI. Tiga guru besar sosiologi, guru besar Ilmu Pemerintahan, guru besar Administrasi Publik dan guru besar Administrasi Bisnis masing-masing satu.

“Saat ini ada tujuh dosen FISIP yang sedang proses guru besar, termasuk saya. Target kita, minimal harus ada 30% guru besar dari total dosen yang ada. Upaya yang kita lakukan untuk mencapai target itu antara lain; pemetaan dosen, mengaktifkan kelompok jabatan fungsional dosen, hibah penelitian dan pengabdian, bantuan publikasi dosen serta penyediaan ruang kerja bagi dosen,” panjang lebar lelaki 47 tahun ini menjelaskan.

Di ujung acara penyambutan guru besar tadi, penandatangan kerjasa antara FISIP UNRI dengan Rumah Sakit Tengku Rafi’an Kabupaten Siak pun dilakukan.

Meyzi yang meneken kesepahaman bidang Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) itu dengan Direktur RS Tengku Rafi’an, Dr. Toni Chairuddin, Sp. An. M. Kes. DO/fed