May 20, 2024

Oleh Prof. Dr. Yusmar Yusuf, M. Phil

Berhasrat menyalin ketenteraman dunia supra lunar: semesta di atas rembulan. Semesta ruang baku tanpa perubahan (keyakinan kosmologis Aristoteles). Bumilah yang senantiasa berubah.

Termasuk makhluk-makhluk yang jadi “penyewa” rumah bumi, utamanya manusia. Setiap detik mengusung perubahan dalam jenggala waktu, jua lewat kesemberonoan. Sengaja atau pun tak. Semua itu demi menuju kemiripan buana supra lunar nan menawan.

Ikhtiar penyelamatan zona ekosistem mangrove pada beberapa titik kritis di Indonesia, semuanya bertolak dari hasrat besar untuk berubah dan pertaubatan ekologis. Hasrat besar itu bernama konservasi atau pun rehabilitasi ekosistem bentang dan sungkupan. Itulah langkah pertama (awal). Belum selesai langkah ini, mulai datang tahap pengeroyokan dari ragam penjuru mata angin lewat rima  Corporate Social Responsibility (CSR) atau model filantropis oleh perusahaan-perusahaan yang berada di kawasan, demi branded perusahaan bertema green dan bersyarikat secara eco-friendly. Mental keroyok lanjutan; disempurnakan lagi oleh pemerintah daerah yang mengucurkan dana untuk pengadaan infrastruktur yang segaris dengan kebijakan penyelamatan garis pantai terluar Republik ini. Tema agungnya: Kedaulatan Negara! Walau berbau  filmis-plastis.

Pelaksana teknis lapangan tak lebih dari sekumpulan orang kampung yang punya motivasi besar terhadap lingkungan. Mereka memiliki kesadaran ekologis begitu tinggi dan peduli akan isu-isu kebencanaan. Mereka datang dengan cinta. Mereka “meraut” jalan “pulang”, bukan jalan “pergi”. Sekumpulan orang yang berkesadaran saja tak mencukupi demi menyokong hajat besar perubahan itu. Tapi juga harus didampingi visi besar dan pengetahuan dalam relasional, kemampuan adaptasi dan kemandirian dalam penganggaran.

Visi besar itu antara lain, pengetahuan tentang sampah dan kesampahan. Termasuk perilaku merokok dan membuang segala anasir berbahan plastik ke pantai dan badan air. Pengetahuan ini harus dianjak pada level praksis (perilaku dan pembiasan keseharian). Sudahilah dua tabiat ini!!! Demi lingkungan yang sedang menjalani proses pemulihan atas luka dan cedera  selama ini. Belum lagi, kesemberonoan dalam mobilisasi orang-orang dalam jumlah massif untuk datang dan berkunjung ke ruang ini dengan memikul sejumlah kurikulum wisata beralas mental “pasar kaget” dan mental “orgen tunggal”. Dua komponen mental wisata yang berkerabat dengan dentuman bunyi dan sorot cahaya. Ruang ekologis ini, mengharamkan anasir dentuman bunyi dan sorot cahaya. Demi, sekali lagi,… etika kemakhlukan yang berlandas pada penghormatan atas segala makhluk yang bermastautin dalam prinsip ko-habitasi (hidup bersama) di ruang ini.

Jika dilepaskan melalui model “sekumpulan” mereka yang teraniaya, walau memiliki kesadaran ekologis yang tinggi, maka perubahan itu akan berlangsung pucat dan pasi. Nah, perubahan gaya inilah yang tengah berlangsung pada komunitas pencinta lingkungan dan pemulia ruang ekologis mangrove di Indonesia. Hanya memiliki modal untuk sekali melangkah. Masuk etape kedua, etape ketiga, mulai diserang kehabisan bahan bakar dan kekurangan darah. Anemia menggeranyangi sendi dan saluran arteri. Alias tak ngegas lagi!

Lalu, pemimpin politik hanya diserbuk oleh kunjungan pertama ke ruang konservasi, dan  terperangkap kesan statis. Bahwa segala infrastruktur pendukung sudah “menjadi” dengan sendirinya. Tanpa pernah melakukan kunjungan kedua dan seterus sebagai kontrol atas anggaran yang telah dicurahkan. Faktor pelapukan dan usia, sejalan waktu yang berubah, tak pernah terlintas di benak mereka. Mereka beranggapan, bahwa  apa-apa yang telah dibangun di bumi, berpembawaan abadi. Padahal kelapukan dan kepucatan adalah juga parameter dari perubahan itu sendiri.

Rata-rata ruang konservasi yang diinisiasi oleh komunitas kampung , hanya bertahan dalam tempo relatif pendek. Setelah itu, mengalami fase pucat tanpa “kemenjadian”. Selanjutnya, fase pasi dan kurang darah. Lalu, lunglai dan mati. Ditimbuni sejumlah angka almanak ke depan, dia malah dilupakan atau terlupakan. Hasrat agung ingin menyalin kedamaian di alam supra lunar, hanya bermodal minyak tanah, bukan kemampuan pertamax. Begitulah kenyataan. Lantang sorak di awal-awal, lalu sejuk senyap hingga tiada bunyi dalam kuyup waktu.

Dari sini, lakukanlah perenungan! Apakah segala upaya konservasi dan revitalisasi ekosistem ekologis harus dilekatkan dengan tema destinasi wisata? Tema ini jadi beban. Masyarakat yang nyata-nyatanya belum siap untuk didatangi sejumlah orang /pelancong. Jangan terkecoh, bahwa pelancong  yang datang, melontarkan kekaguman di depan orang kampung (padahal pura-pura kagum; satu syarat wajib seorang pelancong). Sekali itu saja datangnya.

Walhasil, konservasi tak tercapai, pelancongan tak tergapai. Dan, kita mengulang-ulangnya dalam gaya amnesia siklis. Dari musim ke musim…