May 20, 2024

OIKETAI Buku – [Hi]kayat kota-kota teraniaya. Aniaya di antara keriangan maritim dan keriangan benua. Didatangi sekumpulan orang-orang kalah yang mendefenisikan kemenangan dalam cara dan selera “orang-orang kalah” pula, di tanah serba letih. Kota, di luar kesadaran dan secara sembunyi-sembunyi, [sesekali mengendap endap dalam gaya gerilya], telah menternak himpunan “kekuatan orang-orang kalah” selari tampilan waktu yang tak kenal sudah alias kiamat.

Demikian sebait portal pembuka dalam Kata Pengantar dari Prof. Dr. Yusmar Yusuf, M. Phil, seorang guru besar dan kosmolog Indonesia dalam buku berjudul DUMAI DAPAT APA?:  Catatan Historia Perjuangan  DBH Migas Kota Dumai  dalam Perspektif Agoes S. Alam”, yang akan diterbitkan oleh Focus Publishing Intermedia, akhir Januari 2024.

Buku yang ditulis Writerpreneur Muhammad Natsir Tahar ini mencatat detail historia derap juang Agoes Budianto atawa Agoes S. Alam sebagai komandan tempur batalion perjuangan Dana Bagi Hasil (DBH) Migas bagi Kota Dumai yang dalam lebih dari dua dasarwarsa lalu tak sedikitpun menetes ke langit urban Dumai yang secara ironis dijuluki Kota Minyak ini.

Aktivis, budayawan, dan politisi Agoes S. Alam berencana meluncurkan buku epik ini pada 1 Februari 2024 mendatang. Pada saat ini buku dengan Nomor ISBN 978-623-88739-2-0 tersebut sedang dikemas di dapur cetak melalui penerbit Focus Publishing Intermedia.

Genot Widjoseno, Jurnalis sekaligus Anggota Dewan Pakar Tim Perumus Atas Kebijakan-Peralihan Pengelolaan Blok Rokan (TPAK-P2BR) Kota Dumai dalam wacana pembukanya menyetir urgensi pengawalan DBH Migas yang telah diperoleh Kota Dumai dua tahun terakhir ini.

“DBH Migas Dumai ini diperjuangkan murni dari warganya. Bukan dari kalangan penyelenggara pemerintahan. Saya tahu, gerakan ini berawal dari warga. Murni aspirasi seorang warga Dumai bernama Agoes Budianto pada tahun 2019, dua tahun sebelum alih kelola Blok Rokan,” tulis Genot dalam buku tersebut.

Tidak ada kata selesai, bagi Agoes selain perlunya pengawalan ketat dari pelbagai elemen, DBH Migas Dumai harus dikatrol naik. Epilog buku ini meng-highlight ujaran Agoes, ““Kalau Mau Fair, Satu Persen Itu Belum Cukup”.

“Kalau mau lebih fair lagi, Dumai harus disamakan dengan semua, karena Dumai harusnya memiliki perhitungan tersendiri yang belum dirumuskan. Kita memang belum merumuskan itu, karena pada tahap ini kita hanya minta ada bagian dari DBH Migas itu untuk Dumai. Kalau kita rumuskan berapa dapatnya, tentu Dumai akan beda dengan Kabupaten Bengkalis sebagai penghasil, namun Dumai berada dalam satu rangkaian. Kalau Kabupaten Bengkalis dapat 10 persen, kita harusnya tidak terpaut jauh dari angka itu”.

Provinsi (Riau) harusnya tidak lebih besar dari Dumai, karena mereka hanya administrator, dan tidak terkait langsung dalam proses pengolahan migas. Jadi ini bisa kita tinjau lagi, meski perjuangan sedikit lebih berat, karena bersifat perlawanan”.

Buku ini akan menjelaskan bahwa kita adalah kelompok faktor penenentu, dari tidak adanya DBH Migas untuk Dumai, dan sekarang menjadi ada,” demikian komentar Agoes yang tertera pada back cover buku tersebut . RO/r ~