May 20, 2024

Oleh Prof. Dr. Yusmar Yusuf, M. Phil

Kebertubuhan, bagi saya di masa kecil: sebuah beban. Sekaligus aib.  Aib  yang harus dibawa kemana pergi dan disimpan secara jeluk [jauh di sudut terdalam]. Ya, kehadiran elemen yang ditolak. Membuat malu dan harus ligat mengurungnya dalam-dalam dari pengetahuan orang lain. Di masa kecil, kita telah dititipkan naskah mengenai ”manusia sebagai makhluk suci alias fitrah”. Sepanjang naskah itu saya fahami, maka kehadiran elemen kebertubuhan ini adalah sesuatu yang ditolak. Tak layak hadir. Memalukan. Saya pun menjalani fase-fase sebagai makhluk suci itu. Tapi tetap tak merasa suci selagi masih hadir elemen busuk dan meng-aib-kan itu: Dubur.

Paras molek dan super montel, trés mignon Jeniffer Lopez, ujar Ibn Arabi tak terlepas relasinya dengan dubur yang sehat. Pun, aktor Shah Rukh Khan nan tampan, tampil menawan dengan ketajaman mata “ngajak bobo” juga disebabkan kesehatan dubur di belakang sana. Sederet artis K-Pop berparas “remaja abadi”, kulit kinclong, glowing, tersambung langsung dengan “kecantikan dubur”.

Jika anda seorang moralis dan penjulang etik, amat tak layak “wilayah” ini dibincang, apatah lagi ditulis. Benar-benar zona oiketai. Jika pun dipaksa hadir sebagai materi debat calon Presiden dalam masa kampanye, pasti bergelombang reaksi para moralis mengamplifikasi tema ini. Serempak dengan itu; ya, mereka mengglorifikasi diri selaku makhluk tersuci muka buana. Atau malah sebaliknya, para generasi Z yang maniak tutorial itu, akan menghibahkan dan mewakafkan dirinya untuk meminta tutorial serba aktraktif mengenai dubur di arena Tik Tok, IG dan sejumlah media sosial.

Dubur, berasal dari kata Arab [رو ب و د], bermakna “sisi belakang”, dia berpenampilan selonsong liang/ lubang. Ingat secara spiritual, bahwa manusia terancang sebagai badan [corpora] yang bukan tembok atau dinding kaku. Tembok tubuh itu terdiri atas beberapa lubang [lobang]. Tanpa lobang ini, maka tubuh akan doyong, tanpa pemecah angin [wind breaker].

Masa kecil, saya termasuk sosok yang menolak kehadiran dubur dengan sekumpulan pertanyaan eksistensial. Kenapa harus ada dubur? Kenapa dan mengapa dubur? Bagaimana jika tiada dubur? Bagi saya, dubur hanya layak dilekatkan kepada hewan bernama ayam. Tak layak bagi manusia yang suci itu. Saya menjalani masa-masa “orang suci” dengan menolak dubur. Caranya? Bisa berhari-hari menahan untuk tidak buang air besar. Hanya buang air kecil [alias kencing saja]. Semua itu dilakukan, demi kesucian yang dikonstruksi oleh naskah “makhluk fitrah”. Reaksi dubur membawa bau, busuk, ledah dan jauh dari anasir suci dan kesucian. Jika, sang Pencipta menisbahkan prinsip “imago Dei” yang diikhtisar kepada maujud fisik manusia, apakah “imago Dei” [gambaran Tuhan] itu harus diwakili oleh selonsong lubang bernama dubur. Akibat menolak kehadiran dubur? Banyak orang setelah remaja dan dewasa digelung penyakit ambeien alias wasir: wajah lembab, mata tak bercahaya.

Kelana liar lain? Ya, tentang Jesus yang diper-tuhan-kan. Iman Kristen [dan] ketika diperhadapkan dengan pertanyaan eksistensial ini; Keilahian [divine] yang melekat pada tubuh Jesus, apakah mengenal penanggalan dan pemisahan fisik Jesus dengan elemen ilahiyah pada  ketika Jesus masuk toilet dan buang air? Lalu, setelah keluar toilet, elemen ilahiyah itu menempel kembali secara otomatis pada tubuh Jesus yang berdubur?

Tasawuf tajalliat, tak mengharamkan bicara akan dubur. Para agamawan hanya memikul tema dubur dari sulingan kisah nabi Luth dengan segenggam cerita kaum Sodom dan Gomorah yang digempitakan dan dimusikalisasi dalam sejumlah khutbah dan dakwah demi menebas tabiat melencong LGBT.  Itu pun dalam sejumlah eufemisme berbahasa dan gejala. Selebih itu? Ya dikisahkan dalam wajib istikharah [bersuci]. Ibn Arabi tak segan-segan menghubungkan dubur dengan “kejelitaan” spiritual seorang mudaris. Pancar kecerlangan mata yang tajam dan jernih-bening. Bercahaya. Bagaimana seorang “murid” yang ditendang penyakit fisik? Dia tak akan menjalani kenikmatan pemanjatan spiritualitas yang melengking. Para ahli kecantikan,  penekun mode, juga rajin berkonsultasi dengan dokter [internis], dokter yang membidangi saluran pencernaan dan pembuangan [anus]. Tak ada dimensi aib.

Saya menjalani masa kecil bak seorang rabi, bak seorang faqih yang menangkap kesucian itu hanya terhubung dengan tampilan [reaksi] fisikal seperti kotoran yang keluar dari saluran pencernaan dan kontraksi tubuh. Di sini, apakah pertanyaan-pertanyaan eksistensial tentang tubuh dan kebertubuhan adalah bagian dari pertanyaan spiritualitas? Tak lebih hanya relung kedangkalan seorang pengelana kecil yang sok suci. Menggantungkan konsep kesucian dengan ihwal fisikal: tercium oleh hidung dan tatapan mata.

Menjalani spiritualitas ala Buddha: semadi, tapa. Di sini kebertubuhan adalah sentral dari segalanya. Tanpa tubuh dan kebertubuhan, tanpa dubur, orang tak layak menjalani semadi. Pun,  Yoga menjadi satu jalan mempertemukan kesehatan ragawi dan batini. Di sini kesatuan antara dua lubang mulut dan dubur dipertemukan dalam satu data [litar algoritma]: sehat jasmani, cerah batini. Para penekun Freudian lewat lengkingan ke-ber-dubur-an yang gagal lah [fase anal] menampilkan sejumlah tindak patologis kekinian [homoseksual, lesbianisme dan atau bi-seksual] yang kemudian difestivalisasi dalam gaya hidup banal di ruang-ruang kota modern atau malah di kamar mewah sebuah kastil dan gereja ortodoks. Pun dusun-dusun senyap.

Ke-ber-dubur-an juga menendang kisahnya ke “terra-incognito”. Menyentak akal sehat. Rezim kampung suci dan kampung langit juga diterjang kisah yang mendegradasi akan kesucian itu:  Pesantren, madrasah, relasi guru [ustad] monarkhis, berdepan dengan jumlah kehadiran santri dan murid [mudaris] bak segerombolan gembala lemah. Dunia kampus modern, dunia kanuragan silat ala Kung Fu, juga tak hirau dengan wilayah suci dan kekelaman ‘lubang tembok’  fisik yang tak jantan dan tak betina itu. Lubang ini tak berjenis kelamin.

Tuhan terikat dengan konsep “kosong” dan “impersonal” dalam relasinya dengan ide Manusia Sempurna. Yang tersisa dari konsep Tuhan itu hanyalah nama arbitrer [serampangan] demi mengalamatkan sebuah hakikat dan realitas metafisis, bukan dalam makna sejati Tuhan Penguasa Alam Semesta Yang Maha Pengasih. Kita mengalami kekelabuan dan kesesatan pemahaman akan itu. Termasuk dubur, bisa aja dia [dubur] adalah jelmaan dari sebutan “arbitrer” [ugal-ugalan], sehingga manusia pun menyelubunginya dan mendatanginya  dalam gaya serampangan.  ~