May 20, 2024

Oleh Prof. Dr. Yusmar Yusuf, M. Phil

Merindui kelainan, sebuah jalan untuk menetapkan entitas [siapa loe dan siapa gua].  Kelainan [les autres], juga ditempuh bak sebuah jalan kekerasan yang diambil, bahwa aku ada dan engkau tiada. Alias hapus. Manusia berkerumun dalam sejumlah himpunan. Sebut saja komunitas:  Sebuah retas menghadirkan “being-with-other” ujar Jean-Luc Nancy. 

“Seseorang tak akan bisa bersama dengan orang lain, jika berada dalam keadaan yang sama. Sebab, orang itu identik dengan dirinya. Buruh berbeda dengan petani. Mereka bisa bersama dalam majelis  kelainan. Mereka tak bisa disamakan. Buruh mungkin saja terbentuk dari suatu kelas, tapi mereka bukan masyarakat secara total.

Komunitas merindui perbedaan, sehingga bisa mendorong terbangunnya being-together dengan orang lain. Nasionalisme datang dengan konstruksi “mengenang kematian”. Sebuah upaya meningkatkan status orang mati demi peningkatan kesadaran dan program historis. Semua ini bermuara pada bangunan “kebenaran” status mitologis kepahlawanan. Paling tidak, ya status legenda epos kematian. Nasionalisme merancang orang mati ini berbeda [lain] dengan mereka yang masih hidup. Termasuk kematian anak-anak Gaza oleh pembantaian zionisme Israel.

Komunitas ialah sebuah pengalaman tentang penggalangan being-with-other yang cacat dan busung lapar. Bagaimana tidak; secara filologis community  berangkat dari dua jenis etimologi; “… com + munis [alias, … menjadi terikat, tertawan dan terhutang satu sama lain]”. Lebih berwarna lain lewat etimologi kedua; “… com + unus [… apa yang secara bersama dianggap satu]. Sebuah relasi kontraktual-agregatif demi mendamaikan perbedaan dan mendistribusikan kekuasaan. Begitu cara pandangan liberal melihatnya.

Relasi penjajah-terjajah; tuan-hamba; kaya-miskin; si empunya-tiada berpunya, berlangsung dalam kemuaian brutalitas, instrumentalitas dan malah pemusnahan. Pihak terjajah, si miskin membaca diri mereka sendiri lewat pembayangan pihak lain [kaum berkuasa, penjajah, kaya]. Dalam kancah relasi internasional, mereka berada dalam bayangan dan pembayangan untuk “re-edukasi”, sejalan dengan impian masa depan penjajah. Bahkan mereka didesak masuk dalam spesies yang berada di bawah derajat manusia.  Pengalaman Ghandi yang dilempar dari gerbong kereta api di tengah pekat malam legam di Afrika Selatan. Terpaksa menjalani malam gigil dingin di ruang tunggu.

Terhubung dengan pengalaman Franz Fanon, seorang filsuf [kebetulan berkulit gelap] yang disorot oleh tatapan mata kanak-kanak putih. Tatapan itu; “seakan tubuhku terdistorsi, terdepak, terpelanting, lalu diberi kembali kepada ku dalam kenyataan muram, murung, pada sebuah siang musim dingin yang putih”. Mata kanak-kanak putih itu seakan gemerincing lonceng kematian; “negro itu hewan buas, negro itu sampah, jelek, maung, ledah, hodoh, bebal”. Negro itu menggigil kedinginan, dingin yang menusuk ke tulang sumsum. Anak lelaki putih itu melanjutkan cerutaian “pejorative-jujur”, gemetar. Dalam tabrakan rasa takut, dia melemparkan dirinya ke pelukan sang bunda: “Mama, negro itu menakkutkan. Dia akan menelanku. Tollong mama!!!”

Bagi Fanon, “penjajahan itu ialah bentuk kekerasan telanjang dan hanya menyerah oleh sergahan kekerasan yang lebih melengking dan telanjang pula”. Maka, lakukan sesuatu yang melengking dan telanjang! Kolonialisme akan senantiasa memproduk pertanyaan-pertanyaan pejoratif lewat fabrikasi ide dan semburan evokasi tiada henti kepada jutaan bahkan milirian penghuni planet ini. Gaza dengan segenap penghuninya, dilekatkan dengan ide terorisme. Sebaliknya? Negara-negara “dipertuan” bersimfoni dalam glorifikasi nyanyian  kedamaian, penjinjing kasih lewat ledakan dan salakan pesawat pengintai dan pembom maut. Bagi kolonial, di luar dirinya berlaku penjelasan ini: “Engkau bukan siapa-siapa, selain bagian dari alam dengan tumpukan hukum natur yang menimpa!”

Status “yang bukan siapa-siapa” ini, mengikat dan membelenggu kaki untuk tidak menjadi manusia sehingga bisa menjadi “apa saja”. Yang dikampanyekan lewat kanal-kanal agitasi mondial, bahwa yang bisa menjadi siapa-siapa dan yang mampu melampaui kenyataan yang ada saat ini, hanyalah entitas yang dilekatkan dengan Eropa dan serba Eropa. Jeritan Fanon, sejatinya belum selesai sepanjang lorong relasi “engkau, dia dan aku yang memaksa”.

Untuk mencapai “subyektivitas manusia dan realitas universal, anda hanya bisa melakukannya lewat pembudi-dayaan subyektivitas Eropa. Inilah “antalgen” yang bisa ditempuh, demi keluar dari keadaan terjajah, terhukum oleh natur yang beku, bebas sebagai manusia terkondisi. Alias, ketika bersepakat dan berselingkuh dengan upaya keras memanfaatkan “reason” yang menjadi hak prerogatif Yunani-Romawi-Eropa, anda bisa menjadi pelarian dan menegakkan kepala dalam keadaan manusia sejati.

Lalu, di mana Jepang dan Cina? Termasuk India. Adakah tema rerangkai Timur boleh diadu dengan konstruksi “reason” subyektif Yunani-Romawi-Eropa? Tema rerangkai “reason” ini perlu dicungkil kedalaman dan keperkasaannya. Bukan sekedar  untuk bersanding dan dipertandingkan dalam sebuah kompetisi. Namun, dia menjadi andaian perbuatan subyektif yang “kuat” untuk ditegakkan demi menyetor etos Timur yang kuat beradu dengan keniscayaan alami itu. Walau dia bak catatan kaki yang tertinggal. Wilayah ini telah banyak menghasilkan kajian komparatif, keunggulan dan kelemotan masing-masing.

Bahwa antara penjajah dan si terjajah, sejatinya  hidup dan berhadapan satu sama lain dalam bentang serba eksklusif. Eksklusivisme ini melahirkan defenisi dan formula: “bahwa salah satu dari mereka [spesies berkuasa] dipersepsikan sebagai yang esensial dan substansi. Bahwa merekalah yang manusia. Sebaliknya, “spesies pribumi” “les autres”, “nan lain”, “penduduk asli”, “orang tempatan” terhubung sebagai spesies kelebihan antah [l’exces], sisa [residu], dan bahkan sesuatu nan lain [les autres].

Bertambah muram relasi itu, ketika kedua belah pihak berhubungan dalam kontraksi relasi jumud dan beku yaitu; lewat institusi [militer, polisi]. Relasi dua pihak [dyadic] ini dilengkapi lewat bahasa ‘murni kekerasan” [popor senapang, bayonet, drone, napalm]. Mereka diajak bergabung dalam kelengkapan subyektivitas manusia dan realitas mondial, sekaligus menjalani negasi struktural ke atas mereka sebagai kaum lemah, terjungkal dan mudah tercabik-cabik.  ~