June 14, 2024

Acara Bincang Buku Puisi Karya Ning, yang berlangsung di Galeri Seni Rumahitam, Batam, Sabtu malam (25/05/2024). F: ramon

BATAM Oiketai – Buku puisi karya Ning, seorang penyair perempuan dari Batam melewati satu sesi bedah buku yang ditaja Komunitas Rumahitam, Sabtu malam (25/05/2024). Buku bersampul merah jambu dengan judul “Perihal Kita” ini tergolek pasrah ketika pisau bedah Ramon Damora mulai “menyayat” tubuhnya.

Tampil dalam acara Bincang Puisi Ningsih Penyair Perempuan Batam yang diinisiasi Budayawan Dato’ Seri Lela Budaya Rida K Liamsi ini adalah penyair papan atas Ramon Damora dan seorang penulis yang tertuduh sebagai filsuf, Muhammad Natsir Tahar. Samson Rambah Pasir, satu lagi penyair legend dari Batam, memandu acara ini dengan sangat menarik, humoris dan mengalir.

Ramon yang puisinya pernah menembus kota Paris itu, membawa serta penyair perempuan era modern Amerika, Emily Elizabeth Dickinson (1830-1886), bukan untuk membuat jarak, tapi untuk mendekatkan Ning dengannya, dan menjadikan Emily sebagai sumber inpirasi, agar Ning yang berprofesi sebagai guru ini segera keluar dari zona nyamannya.

Ramon mengesankan puisi-puisi romantika dan diksi-diksi “aman” yang ditulis Ning dalam bukunya tampak terkurung dalam peran Ning sebagai gadis remaja belia. “Sudahlah kita tidak muda lagi,” kata Ramon. Terkesan kejam namun Ning menyambutnya dengan senyuman, dan ia memang punya alasan logis untuk itu.

Di sisi lain, dalam puisi berjudul “Terbelah Bulan”, Ramon melihat judul ini agak berani, karena bulan terbelah adalah sebuah frasa yang sakral dan melekat pada riwayat mukjizat Nabi Muhammad. Sementara judul tersebut tidak menjelaskan isi dari puisi terkait. Secara keseluruhan Ramon mengapresiasi Ning yang memiliki semangat kuat untuk memajukan dunia puisi perempuan, dengan karya-karya yang banyak disukai. Pada kesempatan itu, Ramon juga menyinggung soal siklus 20 tahunan estafet kepenyairan di Kepulauan Riau.

Sementara Natsir lebih melihat buku puisi karya Ning sebagai bentuk impuls emosi manusia yang diproduksi otak kanan sebagai sumber kreativitas dan imaji, sementara puisi tersebut dibedah oleh pengamat melalui penalaran otak kiri, yang analitik dan logis. Kedua hal tersebut, kata Natsir tidak akan pernah sama, telaah-telaah tentang karya puisi hanya akan mendekatkannya, bukan merupakan cerminan utuh dari puisi itu sendiri.

Natsir membahas perihal puisi ke dalam tiga segmen yaitu sejarah filsafat, neurosains, dan futurisme. Menurut Natsir, sejarah pertengkaran (baca: dialektika) filsafat dan puisi telah dimulai dari zaman klasik Socrates-Plato-Aristoteles, melewati abad kegelapan di zaman Agustinus dan Thomas Aquinas, era renaisans Immanuel Kant dan Hegel, era modern Kierkegaard dan Nietzsche, sampai ke zaman post-modern Ferdinand de Saussure dan Deridda.

Dari sisi neurosains, sebut Natsir, puisi merupakan pilihan-pilihan diksi bawah sadar manusia, dan bagian otak yang menghasilkan emosi dalam puisi itu berdempetan dengan bagian otak yang menghasilkan memori otobiografis. “Sehingga bila endapan diksi dan pengalaman manusia tidak cukup untuk menghasilkan puisi, maka puisi itu akan diisi dengan memori otobiografis atau kenangan-kenangan,” terangnya.

Dari sisi futurisme, dijelaskan bahwa sebuah puisi saat ini dapat diselesaikan dalam waktu 30 detik dengan komputer bertenaga Artificial Intelligence (AI) dan semakin sempurna dari hari ke hari. Ini adalah ancaman bagi peradaban puisi. Namun di sini, sebutnya, puisi-puisi yang bersifat personal seperti yang banyak ditemukan dalam buku puisi Ning, akan tetap menampakkan orisinalitasnya. Persoalan akan timbul bila para penikmat puisi hanya ingin menikmati karya yang setara Rumi, Neruda, atau Shakespeare atau kombinasi dari ketiganya dengan sajian cepat.

Rida K Liamsi menanggapi acara bedah buku ini sebagai momen yang sangat menarik. Menurutnya, buku Ning sebelumnya pernah dibedah di Jakarta, namun hanya bersifat normatif dan textbook. “Ini luar biasa, dan ternyata lebih bagus dari Jakarta. Ini menjadi momentum penting bagi kebangkitan puisi di Batam,” sebut Rida. Rida menginginkan helat ini akan berketerusan dan menjadi kebangkitan bagi dunia puisi di Batam dan Kepuluauan Riau umumnya. Pemilik Galeri Tanjak Rumahitam juga menyambut baik dan siap memfasilitasi bincang dan bedah puisi lanjutan.

Sementara itu sastrawan Abdul Kadir Ibrahim alias Akib menyebut, Ning adalah penyair perempuan kedua yang bukunya pernah dibedah di Jakarta, setelah Suryatati A Manan pada 2007 silam. Menurut Akib, Ning adalah contoh yang baik bagi para penyair perempuan untuk menghidupkan puisi-puisi mereka dengan ciri khas dan kelebihan yang mereka miliki.

Sebelumnya buku puisi karya Ning, sempat dibedah oleh Badan Bahasa dengan tema “Sajak-sajak Malam Gerimis Setangkai Mawar Chairil karya Idrus F Sahab dan Perihal Kita karya Ning”, berlangsung di Rawamangun, Jakarta pada Selasa (30/04/2024). RO-mun