Ilustrasi: sortiraparis.com
Oleh Murparsaulian
Victor Hugo berusia 40-an tahun ketika mengalami musibah, sehingga dalam waktu hanya satu malam saja seluruh rambutnya berubah menjadi ubanan. Itu terjadi dalam kehidupan nyata. Pada lembaran sebuah karya fiksi ada seorang perempuan yang baru berusia dua puluh empat tahun mengalami hal yang sama: hanya dalam hitungan hari, dua untai rambutnya sudah berubah menjadi putih. Apa sebenarnya yang terjadi?
Pengarang terkemuka Prancis, Victor Hugo, di usianya yang masih terhitung muda, sudah sangat termasyhur berkat karya-karyanya yang cemerlang dan prolifik. Namanya semerbak seperti mawar di puncak hari-hari musim semi yang konon merupakan hari terindah di negeri-negeri empat musim.
Dalam waktu satu malam saja penampilannya berubah habis-habisan. Karena? Rambutnya berubah menjadi putih semua. Uban telah memenuhi kepalanya. Seberat apakah derita pilu yang menimpanya? Penyair dan pengarang yang sedang berada di puncak ketenaran itu seperti telah tersadap darah dan semangatnya. Ada apa dengan dia? Untunglah sejarah sastra mencatat kejadian itu dengan cermat.
Seperti kebiasaan di zaman itu, Victor Hugo menikah dalam usia muda, ketika masih berusia dua puluhan tahun. Karena itulah pada usia 40-an ia telah mempunyai seorang anak gadis bernama Leopoldine. Anak perempuannya itu menikah, lalu berpesiar dengan perahu di sungai Seine yang membelah kota Paris. Malangnya, perahu yang ditumpangi pasangan pengantin baru itu karam dan keduanya meninggal dunia. Inilah asal malapetaka yang menyebabkan besoknya seluruh rambut pengarang cemerlang itu menjadi putih.
Cerpen molek yang berjudul Moonlight (Terang Bulan) karya seorang penulis terkenal yang juga berasal dari Perancis bernama Guy de Maupassant adalah lembaran fiksi yang mirip dengan kisah Victor Hugo. Dalam cerpen ini, Nyonya Henritte Letore, yang sama-sama tinggal di Paris mengalami sesuatu. Apa yang kita sebut sesuatu, sebenarnya sebuah misteri. Dan misteri dalam sebuah cerita merupakan hal yang paling ingin diketahui oleh para pembaca.
Gaya teknik cerita yang mengurai sebuah teka-teki atau misteri yang dialami oleh dua perempuan kakak beradik, Nyonya Henriette Lotere dan Nyonya Julie Riubere. Kakaknya mengalami misteri rambutnya berubah jadi putih semua karena suaminya mencintai perempuan lain, sedangkan adiknya menyimpan sebuah misteri tentang keindahan bulan purnama yang dianggapnya sebagai kekasih abadi. Dua rahasia yang berbeda dari dua orang perempuan yang berbeda.
Cerpen Terang Bulan menarik untuk dibincangkan dengan “Sonata Claro de Luna” atau “Mundlicher Sonata” karya Ludwig van Beethoven yang sama-sama mengambil bulan purnama sebagai tapak inspirasi berkarya di dua jalur seni yang berbeda yaitu sastera dan musik. Sama-sama mengurai sebuah teka-teki atau misteri di balik kehidupan Guy De Maupassant dan Ludwig van Beethoven.
“Moon Light Sonata” seperti barisan partitur ratapan dari komposer terkenal yang lahir di Bonn, Jerman itu. Diawali dengan nada awal yang lembut, namun seperti mengoyak-ngoyak perasaan. Lalu pada movement kedua ada pergerakan melodi yang ceria seperti bunga-bunga bermekaran di musim semi yang disebut dengan “a flower between two chasms” oleh Frans Liszt komposer kenamaan asal Austria.
Artinya bunga di antara dua jurang. Dan pada bagian ketiga kita akan mendengarkan nada-nada yang menghentak dengan cepat, seperti letupan emosi. Cinta yang tak sampai. Bila digabungkan movement pertama hingga akhir seperti bentuk perjalanan hidup Beethoven yang berliku. Antara kisah cintanya yang malang dan karir musiknya yang gemilang, seperti menyimpan sebuah misteri.
Teknik bercerita atau gaya penghidangan karya sastra ada bermacam ragam, baik yang biasa-biasa saja ataupun yang penuh keanehan. Apalagi gaya yang inovatif merupakan daya tarik yang paling penting agar orang membaca karya yang dihidangkan dengan berbagai modifikasi dan inovasi yang mengejutkan dan mengundang perhatian. Itulah yang dilakukan Guy De Maupassant yang dikenal sebagai raja cerita pendek yang sudah menulis setidaknya 300-an cerita pendek selain novel dan kisah perjalanannya.
Apa yang terjadi pada Nyonya Henriette Letore itu dapat pula terjadi di mana-mana di belahan dunia manapun. Kepiluan yang dialami oleh Victor Hugo dan Nyonya Henriette Latore bukan monopoli orang Paris atau orang Perancis saja. Bahwa pada suatu waktu yang menjadi kekasih seorang nyonya bukanlah seorang lelaki, melainkan terang bulan itu sendiri dapat terjadi di mana saja dan kapan saja.
Terang bulan tidak hanya mesti indah berkilau keperak-perakan di danau Lucerne atau sungai Seine, namun mungkin saja berkilau indah di sungai Siak, sungai Indragiri, di lubuk larangan sungai Subayang Kampar atau terang bulan itu bisa saja merayau di ratusan bahkan ribuan sungai yang jauh dari benua Eropa. Roh terang bulan yang dibawa Guy De Maupassant, dapat juga merasuk ke relung-relung kreativitas penulis di mana pun berada.
Suatu kejadian di suatu tempat yang jauh dapat pula terjadi di sekitar kita dengan kemungkinan yang relatif sama. Itulah yang disebut sebagai kejadian bernilai universal. Misalnya setting cerita bukanlah harus berlangsung di Puncak, Singapura atau Genting Island, Paris atau Danau Lucerne di Swiss tapi dapat saja berlangsung di kota Pekanbaru, di sekitaran Candi Muara Takus, di pesisir-pesisir Riau, dan sebagainya.
Pun apa yang terjadi pada kedua nyonya kakak beradik dalam cerpen “Terang Bulan” bisa saja terjadi di lingkungan tempat kita berada. Misalnya ada seorang perempuan yang menyimpan kesedihan teramat dalam dan panjang, lalu muncul kerutan di wajahnya padahal usianya masih sangat muda. Bukan hanya digambarkan dengan rambut yang memutih. Begitulah. Membaca karya Guy De Maupassant seakan-akan menarik imajinasi keluar dengan liar.
Sesuatu yang terjadi di bawah permukaan sangatlah dahsyat. Gambaran luar hanyalah rambut yang putih, namun yang di bawah permukaan ialah suatu rangkaian cerita yang luar biasa.
Gey De Maupassant hadir dengan alam keliaran imajinasi dalam cerpennya bertajuk Moonlight. Sementara itu Ludwig van Beethoven juga merangkai kreatifitasnya dalam Moon Light Sonata. Mereka berdua tampil dengan sidik jari kreatifitas masing-masing dengan mengambil bulan purnama sebagai inspirasi. Juga menghadirkan misteri, enigma atau teka-teki yang panjang dalam media yang berbeda. Karya kreatif tidak akan pernah berhenti dalam satu titik, ia akan selalu melahirkan ribuan koma dan tanda tanya yang merangsang pembacanya untuk berpikir kritis bahkan imajinatif.
Karya yang bagus dapat menanamkan kesan yang mendalam di hati dan pikiran sang pembaca. Seperti kata seorang pakar estetika di zaman dulu: suatu karya yang bermutu tinggi harus lebih tahan masa dibandingkan dengan perunggu. ~

