March 5, 2026
iranian-old-man-moein-hasheminasab

Iranian Old Man is a photograph by Moein Hasheminasab which was uploaded on September 9th, 2021.

Oleh Muhammad Natsir Tahar

Adalah sebuah komedi yang kolosal ketika menyaksikan sebagian kita menjadi pemandu sorak paling histeris bagi Teheran, sarang bagi mazhab Syiah yang dibenci. Begitu rudal-rudal Iran membelah langit Tel Aviv dan membakar pangkalan militer Amerika, fatwa-fatwa kutukan yang biasanya mengalir deras digantikan oleh puja-puji. Fenomena ini adalah puncak dari disonansi kognitif; sebuah momen di mana kebencian terhadap Zionis dan Barat harus lebih kuat daripada dogma kesucian, lalu menumpang pada nyali bangsa Persia yang dibaluti stigma itu.

Diakui atau tidak, keberanian dan kecerdasan militer Iran bukan semata produk dari kekuatan magis yang dibalut dogma, melainkan warisan genetik intelektual bangsa Arya yang tak pernah padam. Iran bukanlah Arab, dan ia tak pernah ingin menjadi Arab.

Perbedaan antara Iran (Persia) dan Arab (Jazirah) adalah pertentangan antara Logos (Akal) dan Kalam (Kepatuhan). Persia, dengan akar Zoroaster-nya yang kuno, telah mengenal dialektika kebaikan dan keburukan sebagai pilihan sadar manusia ribuan tahun sebelum gurun Jazirah mengenal huruf.

Bagi Persia, alam semesta adalah teka-teki yang harus dipecahkan melalui sains; bagi Arab abad ke-7, alam semesta adalah instruksi statis yang harus dipatuhi. Iran tidak pernah benar-benar “takluk” secara intelektual kepada Jazirah; mereka hanya “mengenakan jubah Arab” untuk menyelamatkan warisan Platonis dan Aristotelian mereka dari pedang Badui yang buta aksara. Iran adalah mutiara dalam cawan pasir. Iran adalah subjek yang berpikir, sementara Arab ketika itu adalah objek yang bergerak berdasarkan insting penaklukan.

Di antara kita menderita “amnesia sejarah” yang akut karena melabeli Ibnu Sina alias Avicenna (kedokteran), Al-Khawarizmi (matematika), Ibnu Al-Haytham (optik), Jabir bin Hayyan (kimia), Al-Jazari (robotika/mekanika), Al-Razi (kedokteran/kimia) sebagai “Ilmuwan Arab”. Ini adalah kekeliruan taksonomi yang fatal.

Bahasa Arab adalah lingua franca dan bahasa administrasi bagi penaklukan serta syiar atas dogma, sebagaimana bahasa Inggris digunakan di India. Mengatakan Ibnu Sina sebagai ilmuwan Arab karena karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab adalah sama lucunya dengan mengatakan Mahatma Gandhi adalah filsuf Inggris.

Secara genetik dan kultural, mereka adalah Bangsa Arya (Indo-Eropa). Secara kognitif, mereka adalah pewaris Akademi Gondishapur. Arab abad ke-7 memberikan “tinta”, tetapi Persia memberikan “otak”. Ironisnya, setelah tintanya habis digunakan untuk menulis karya besar Persia, orang Arab mengklaim bahwa mereka pulalah yang menciptakan kertas dan ide di dalamnya. Arab tidak menciptakan peradaban; mereka hanya menjadi kurir bagi peradaban Persia yang mereka bungkus dengan prangko agama.

Hubungan Arab-Persia adalah contoh klasik dari kompensasi atas rasa rendah diri. Bangsa Arab Jazirah yang nomaden dan tanpa sejarah bangunan megah, merasakan keguncangan ego saat melihat kemegahan Persepolis dan Ctesiphon.

Untuk mengatasi rasa rendah diri ini, mereka menciptakan doktrin Arabisme. Ini adalah mekanisme pertahanan ego untuk memastikan bahwa meskipun mereka secara intelektual kalah kelas, mereka secara spiritual tetaplah “tuan” bagi bangsa Persia yang lebih cerdas.

Hingga hari ini, ada semacam kecemburuan bawah sadar: Saudi memiliki minyak, tetapi Iran memiliki nuklir dan satelit buatan sendiri. Saudi membeli perlindungan, Iran membangun ketahanan. Psikologi Arab adalah psikologi “konsumen”, sedangkan psikologi Persia adalah psikologi “produsen”.

Sungguh sebuah komedi sejarah ketika seorang guru agama di pelosok Nusantara memuja-muja “Sains Islam” sambil merujuk pada Al-Jabar, tanpa menyadari bahwa penemunya adalah orang Persia yang mungkin akan menangis jika melihat karyanya digunakan untuk menjustifikasi pemikiran sempit abad ke-7.

Arab memberikan aturan tentang cara masuk kamar mandi menggunakan kaki kiri dan bercebok dengan tiga buah batu, sementara Persia memikirkan cara membedah anatomi tubuh manusia dan memetakan bintang. Memuji kemajuan Arab karena prestasi Ibnu Sina ibarat memuji seekor kuda karena ia membawa seorang penunggang yang jenius. Kuda itu tetaplah kuda, ia hanya kebetulan berada di bawah tubuh sang jenius yang sedang menuju perpustakaan.

Iran adalah Aryanam (Tanah Bangsa Arya). Garis keturunan Indo-Eropa ini menempatkan mereka dalam rumpun yang sama dengan para pemikir Yunani, Romawi, dan Jerman. Matahari (simbol cahaya dalam tradisi Arya) melambangkan pencerahan intelektual.

Saat Arab datang membawa aturan yang kaku, Persia melakukan filtrasi. Mereka mengambil kerangka Islam namun mengisi “ruh”-nya dengan tasawuf, seni, dan filsafat yang bernapas Arya. Iran bukan sekadar “negara Islam”; Iran adalah Peradaban Arya yang memakai akal genetik untuk bertahan hidup dalam kepungan gurun yang gersang akan pemikiran.

Sebaiknya usah lagi menumpangkan sejarah Arabisme di jazirah pada kecerdasan Persia. Biarkan Arab kembali pada identitas aslinya: etnik padang pasir dengan tradisi lisan yang bersahaja. Biarkan Persia (Iran) berdiri sebagai mutiara yang sebenarnya; sebuah bangsa yang meskipun dirundung sanksi dan tekanan, tetap mampu membuktikan bahwa Genetik Intelektual dan Sejarah Arya tidak bisa dibeli dengan petrodollar.

Jika Ka’bah adalah magnet spiritual bagi massa, maka Isfahan dan Shiraz adalah mercusuar bagi akal. Tanpa Persia, Islam hanyalah kumpulan aturan sanitasi dan hukum potong tangan di tengah debu yang sepi.

Di saat bangsa jazirah abad ini menghirup hedonesime petrodollar dengan gedung yang mencakar awan dengan bahu yang senantiasa merosot di hadapan Amerika dan Israel, para ilmuwan di Teheran sedang sibuk menghitung trajektori balistik dan kontrol kecerdasan digital menggunakan otak yang telah ditempa oleh ribuan tahun filsafat Zoroaster dan dialektika Indo-Eropa. Mereka adalah pewaris matahari, bangsa Arya yang memiliki “perangkat lunak” kognitif yang berbeda total dengan bangsa gurun yang hanya tahu cara bermain senjata berbuah ghanimah, pajak kepatuhan (jizyah) dan tentu saja surga dunia: ma malakat aymanukum . ~