Oleh Agoes S. Alam
[Ketua Umum Dewan Kesenian Daerah Kota Dumai]
Ada sebuah kota yang dikenal dunia sebagai “Mutiara Hitam di Pantai Timur Sumatra.” Sebuah metropolis yang lahir dari dekrit politik tahun 1999, yang kisahnya kerap dimulai dengan deru mesin eksplorasi asing pada 1930-an. Itulah narasi yang dominan: Dumai modern, perkasa, dan berjalan di atas kolam emas hitam.
Namun, di balik kilau kilang minyak dan riuh terminal pelabuhan, tersembunyi sebuah pertanyaan yang diam-diam menggugat: Dari manakah sebenarnya kita berasal? Sebelum minyak, sebelum pemekaran, bahkan sebelum administrasi kolonial yang rapi: apakah ada sebuah “Dumai”? Ataukah kita hanya kumpulan manusia dan bangunan yang tiba-tiba diberi nama dan batas oleh sebuah peraturan?
Sejarah resmi kerap seperti sangkar yang indah, tetapi kosong. Ia memiliki struktur tanggal dan peristiwa yang tertib, namun kehilangan jiwa dan napas panjang perjalanan sebuah komunitas. Kota ini, seperti manusia, merasakan sebuah kehampaan ketika hanya mengenali akta kelahirannya yang administratif, tetapi lupa akan detak jantung pertama kehadirannya di pentas sejarah.
Kegelisahan itu membawa kami menyelami lorong-lorong yang terlupakan: gudang arsip, koleksi peta usang, dan bundel surat-surat yang terikat rapih dalam debu waktu. Di sanalah kami menemukan “Doemei”. Bukan sekadar nama di peta, melainkan sebuah entitas yang hidup, bernafas, dan bernegosiasi. Namanya tercatat dengan ejaan Van Ophuijsen yang khas, muncul dalam surat perjanjian, laporan etnografi, dan keputusan Sultan, jauh sebelum minyak mengubah segalanya.
Catatan ini adalah sebuah penyelidikan. Sebuah upaya untuk melakukan “arkeologi teks” guna menemukan milestone sesungguhnya, bukan sekadar penanda administratif, tetapi momen ketika sebuah kesadaran kolektif bernama “Dumai” pertama kali diakui, baik oleh kerajaan induknya di Siak maupun oleh kekuatan kolonial yang mengintai. Kami menyusuri dari ketiadaan dalam diplomasi tahun 1811, jejak tapak pada catatan J.S.G. Gramberg 1864, pembakuan nama di peta Leiden 1882, hingga jejak pengakuannya dalam “Korpus 1882-1884.”
Ini adalah cerita tentang kelahiran politik sebuah komunitas pesisir. Tentang bagaimana ia bertahan di tengah tarik-ulur kedaulatan antara Kesultanan Siak dan Pemerintah Hindia Belanda. Tentang bagaimana identitasnya dikukuhkan dalam hukum adat (1901), diinstitusionalisasikan dalam kerangka Zelfbestuur (1915), dan akhirnya ditata secara birokratis di tingkat kampung (1928), sebelum akhirnya dihantam dan diubah selamanya oleh gelombang industrialisasi minyak.
Oleh karena itu, mari kita tinggalkan sejenak narasi “Kota Minyak” dan “Kota Pemekaran.” Mari kita berlayar lebih jauh ke belakang, menyelami arsip yang membisu, untuk mendengar gema pertama dari sebuah nama: Doemei. Inilah perjalanan untuk menemukan detak jantung pertama kota kita, mencari milestone yang sesungguhnya, dan mengembalikan ingatan yang lama tertinggal dalam lipatan sejarah. ~
Selamat datang dalam pencarian “Milestone Dumai.”

