January 19, 2026
1

Ketua DKD Kota Dumai, Agoes S. Alam saat menyerahkan draft buku Milestone Dumai kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Dumai, Mukhlis Suzantri, S. Hut. T. MT. di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Dumai, Selasa (7/1/2026). F: dok. DKD

OIKETAI Dumai – Sebuah upaya serius untuk menjawab pertanyaan mendasar “dari mana sesungguhnya Dumai bermula?” resmi bergulir. Pada Rabu, 7 Januari 2026, draft buku berjudul “Milestone Dumai: Napak Tilas Sejarah Dumai” diserahkan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Dumai. Penyerahan ini bukan sekadar formalitas, melainkan titik awal dari upaya sistematis untuk mendokumentasikan sekaligus merekonstruksi catatan perjalanan penting Kota Dumai yang kerap terlupakan di balik narasi minyak dan pemekaran.

Draft buku tersebut diserahkan langsung oleh Agoes S. Alam kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Dumai, Mukhlis Suzantri, S. Hut. T. MT, didampingi pengurus Dewan Kesenian Kota Dumai (DKD) dan enam orang anggota tim peneliti. Bertempat di Kantor Disdikbud Kota Dumai, penyerahan naskah ini diharapkan menjadi fondasi bagi sebuah referensi edukatif yang akan melestarikan memori kolektif sekaligus menjadi bahan diskusi kritis bagi pelajar, akademisi, dan masyarakat luas.

“Buku ini lahir dari kegelisahan bahwa kota kita membutuhkan akar sejarah yang lebih dalam daripada sekadar tanggal administrasi. Kami menelusuri arsip-arsip kolonial dan naskah kerajaan untuk menemukan momen ketika ‘Doemei’ pertama kali diakui sebagai entitas politik,” ujar Agoes S. Alam dalam sambutannya.

Mengungkap Lapisan Sejarah yang Terpendam

Buku “Milestone Dumai” menghidangkan tiga lapisan bukti sejarah yang selama ini tersembunyi, masing-masing menjadi versi yang saling melengkapi dalam pencarian hari jadi historis kota:

  1. Versi Catatan J.S.G. Gramberg (1864): Buku ini mengangkat manuskrip perjalanan Gramberg dari Batavia ke Bengkalis yang secara eksplisit dan berulang menyebut “Dumai”. Catatan ini menjadi bukti tertulis paling awal bahwa Dumai telah eksis sebagai komunitas yang hidup di pesisir timur Sumatera pada pertengahan abad ke-19.
  2. Versi Peta Leiden (1875-1882): Melalui analisis kartografis, buku ini menyoroti teka-teki penting: mengapa Peta Leiden 1875 belum mencantumkan nama “Doemei”, sementara Peta Leiden 1882 sudah memuatnya? Interval tujuh tahun itu diduga menjadi periode kritis dimana legitimasi resmi dari Kesultanan Siak Sri Inderapura—mungkin melalui surat atau perjanjian—akhirnya dijadikan dasar oleh Belanda untuk mencantumkan nama Dumai dalam sistem pemetaan internasional mereka.
  3. Versi Korpus 1882-1884: Ini adalah jantung analisis buku. Periode ini merujuk pada kumpulan dokumen kunci—termasuk laporan perjalanan J.A. van Rijn van Alkemade (1884), kemungkinan surat, perjanjian, atau korespondensi—yang mengindikasikan pengakuan formal “Doemei” sebagai entitas politik dalam hubungan antara Kesultanan Siak dan Pemerintah Hindia Belanda.

“Kami tidak memaksakan satu tanggal mutlak. Justru, kami memaparkan ketiga lapisan bukti ini agar masyarakat dan pemerintah dapat memahami proses kelahiran sebuah kota itu kompleks, bertahap, dan penuh nuansa,” jelas Agoes menambahkan.

Pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Dumai menyambut hangat inisiatif berharga ini. Draft buku yang memuat napak tilas mendalam ini akan melalui proses penyuntingan dan validasi final sebelum diterbitkan secara luas.

“Kami apresiasi kerja keras tim. Buku seperti ini sangat dibutuhkan untuk membangun kesadaran sejarah generasi muda. Dumai bukan kota yang tiba-tiba muncul, dan buku ini adalah buktinya,” ujar perwakilan Disdikbud Kota Dumai.

Buku “Milestone Dumai: Menelusuri Jejak Kelahiran Sebuah Kota” diharapkan tidak hanya menjadi dokumen sejarah, tetapi juga pemicu dialog publik tentang identitas kolektif. Dengan memahami milestone-nya yang sesungguhnya, diharapkan masyarakat Dumai dapat melangkah ke masa depan dengan fondasi kebanggaan dan kesadaran sejarah yang lebih kokoh. RO-r